Entri Populer

Minggu, 30 Oktober 2011

Cita-cita


Cita-cita? Apa yang dimaksud dengan cita-cita? Cita-cita adalah sebuah angan-angan ataupun sebuah keinginan yang biasanya berusaha sekuat tenaga untuk diwujudkan oleh seseorang. Cita-cita pun bisa kita umpamakan sebagai tujuan hidup dari sesesorang. Maka jika seseorang tidak memiliki cita-cita maka orang tersebut sama saja seperti tidak memiliki tujuan hidup. Setiap orang pasti memiliki cita-cita dan biasanya cita-cita tersebut dijadikan sebagai motivasi untuk diwujudkan dan untuk melangkah maju kedepan guna mewujudkan keinginan ataupun cita-cita lainnya seperti, “cita-cita menjadi seorang artis agar dikenal oleh orang banyak,” atau, “cita-cita menjadi seorang dokter agar bisa menolong orang yang sedang sakit.”
Untuk mewujudkan cita-cita diperlukan kerja keras, usaha, dan pengorbanan yang tidak sedikit. Banyak tantangan maupun halangan yang amat sulit menghadang. Jika kita terlena akan tantangan maupun halangan yang menghadang di depan kita bukan tidak mungkin cita-cita yang didambakan hanya akan menjadi sebuah angan-angan ataupun khayalan yang tidak akan mungkin terwujud. Namun jikalau kita memiliki niat dan tekad yang kuat bukan tidak mungkin cita-cita tersebut akan terwujud.
Salah satu cita-cita saya yaitu menjadi seorang penulis. Karena , dengan menulis saya merasa bisa mengeluarkan apa yang saya inginkan dan apa yang saya pikirkan. Selain itu menurut saya menulis bisa dijadikan sebuah metode untuk mengendalikan emosi saya. Karena, dengan menulis tidak diperlukan sebuah amarah yang meletup-letup maupun kekerasan yang biasanya identik dengan emosi. Selain itu saya pun bercita-cita menjadi seorang pengajar. Alasan saya ingin menjadi seorang pengajar adalah ingin berbagi ilmu kepada orang banyak terutama kepada masyarakat golongan menengah kebawah. Karena, di Indonesia saat ini masih banyak orang yang tidak bisa bersekolah ataupun tidak mendapat pengajaran yang layak dikarenakan persoalan yang cukup klasik yaitu masalah biaya dan biasanya itu terjadi di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Untuk itu saya ingin sekali memberikan pengajaran yang layak kepada mereka semua agar mereka tidak lagi dihadapkan kepada permasalahan kebodohan. Selain berbagi ilmu kepada orang banyak saya bisa sekaligus beribadah. Karena, apa yang saya sampaikan bisa menjadi sebuah ilmu yang bermanfaat dan itu adalah salah satu amalan yang tidak akan pernah putus meskipun saya telah meninggal kelak.
Dalam usaha saya mewujudkan cita-cita tersebut saya selalu berpegang teguh pada sebuah hadist yang berbunyi, “Manjada Wajada,” yang memiliki arti, “Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil,” selain itu saya teringat sebuah perkataan  dari Dr. HC Ary Ginandjar pada saat saya pertama kali mengikuti kuliah umum di Universitas Sebelas Maret Surakarta yang berbunyi, “Apa yang kalian impikan, apa yang kalian dambakan, apapun angan-angan dan cita-cita kalian itulah masa depan kalian semua kelak!”. Saya yakin akan hal itu dan saya yakin dengan usaha maksimal yang saya lakukan, saya dapat mewujudkan semua cita-cita saya. Namun dalam setiap usaha hal yang paling kita utamakan adalah tawakal. Yaitu berusaha sekuat tenaga untuk suatu hal namun kita tetap menyerahkan segala hasil kepada Allah SWT. Jangan pernah merasa berkecil hati jika kelak apa yang kita inginkan dan kita cita-citakan tidak sesuai dengan kenyataan. Karena yakinlah hal tersebut merupakan hasil yang terbaik yang telah disiapkan oleh Yang Maha Kuasa untuk kita semua. Atau yakinkan pada diri kita bahwa hal yang kita dapatkan saat ini hanyalah sebuah tempat peristirahatan sementara sebelum hal yang kita cita-citakan itu terwujud, dan satu hal lagi yang jangan kita lupakan memohon ridha kepada kedua orang tua kita. Karena mereka adalah orang yang paling berperan dalam pembentukan karakter kita semua. Selain itu ada sebuah hadist yang berbunyi, “Ridhallahi firidha walidaini, wasuktullahi fisuktul walidaini,” yang memiliki arti, “Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah ada pada murka kedua orang tua.”. Itu menandakan betapa pentingnya kedua orang tua kita dan ridha dari kedua orang tua kita terhadap apa yang kita inginkan maupun kita cita-citakan.

Masalah Pendidikan di "Indonesia"


Jika kita sepakat bahwa pendidikan berlangsung sepanjang hayat, isu pendidikan melibatkan setiap orang. Singkatnya, pendidikan adalah hajat hidup setiap orang sejak lahir hingga meninggal dunia.
Ada banyak perspektif untuk memotret dinamika pendidikan. Sama halnya dengan ada banyak pandangan dalam memetakan masalah-masalah krusial di bidang pendidikan. Sebagian orang melihatnya dari sudut pandang kebijakan dan regulasi maupun perencanaan. Sebagian lain meninjau dari aspek praktik. Cara yang komprehensif dalam memotret masalah-masalah pendidikan adalah dari semua segi. Termasuk aspek filosofis pendidikan itu sendiri.
Meski demikian, dalam hemat penulis secara sederhana saat ini paling tidak ada tiga masalah mendasar dalam pendidikan. Pertama, masalah kesempatan atau akses warga terhadap pendidikan. Yaitu bagaimana setiap warga negara dipastikan memperoleh hak akses terhadap pendidikan.
Kedua, masalah sarana dan prasarana. Yaitu bagaimana kesiapan dan ketersediaan secara memadai sarana dan prasarana. Selain prasarana dasar, tentu saja harus pula mengikuti perkembangan kemajuan di bidang teknologi. Hal ini penting. Sebab, pada dasarnya di belahan dunia lain, praktik pendidikan juga berlangsung. Sehingga jika kita tidak ikut menyesuaikan dengan kemajuan teknologi, dalam kancah global tetap di belakang.
Ketiga, masalah yang berkaitan dengan tenaga pendidik, baik dari segi kualitas maupun persebaran antarwilayah. Kesenjangan yang terjadi di bidang kualitas guru misalnya, berdampak pada lemahnya daya saing lulusan suatu lembaga pendidikan dibandingkan dengan lembaga pendidikan yang lain. Selain itu, pemerataan penempatan tenaga pendidik, baik dari segi relevansi bidang studi maupun daerah.
Fenomena yang muncul adalah penumpukan tenaga pendidikan pada daerah-daerah yang sudah maju (baca: perkotaan). Anggapannya, di daerah perkotaan tersedia fasilitas hidup yang lebih baik. Akibatnya, daerah pinggiran maupun daerah terpencil akan terus tertinggal. Kalau demikian, masalah pemerataan tenaga pendidik yang berkualitas berkaitan dengan masalah pertama yaitu hak akses pendidikan yang bermutu bagi warga negara.
Fenomena-fenomena yang muncul memang tidak mudah digeneralisasi bagi semua praktik pendidikan. Tetapi, kita hendaknya melihat fenomena sebagai bagian dari cara pandang dan mengidentifikasi akar permasalahan. Ketersediaan sarana pendidikan misalnya, harus dicarikan solusi agar tidak terjadi kesenjangan yang terlampau jauh. Demikian juga penempatan tenaga pendidik yang sesuai dengan bidang studi diajarkan.
Berkaitan dengan masalah pertama, yaitu tentang kesempatan setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan sebetulnya sudah diusahakan oleh pemerintah baik pemerintah pusat berupa Bantuan Operasional Sekolah (BOS) maupun pemerintah derah berupa BAWAKU atau yang lainnya. Namun, dari segi pendistribusiannya masih butuh perhatian yang serius karena masih banyak warga negara yang tidak tersentuh oleh bantuan tersebut dikarenakan beberapa faktor baik faktor internal maupun eksternal. Oleh karena itu diharapkan pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk mau turun tangan membantu memecahkan persoalan yang amat sepele namun efeknya sangatlah luar biasa.
Untuk permasalahan kedua, pemerintah harus berani membuat sebuah gebrakan moderenisasi di wilayah pedesaan atau wilayah yang terpencil dengan cara meningkatkan pengetahuan penduduk desa tentang teknologi masa kini sehingga masyarakat di pedesaan maupun di daerah terpencil lainnya bisa mengerti dan mengetahui cara penggunaan teknologi masa kini. Selain itu dari segi aspek transportasi pun harus ditingkatkan agar mempermudah akses dari desa menuju kota maupun dari kota agar mempermudah kegiatan moderenisasi di daerah pedesaan atau daerah terpencil dan agar tidak terjadi kesenjangan sosial antara perkotaan dan pedesaan.
Sedangkan untuk permasalahan ketiga yaitu persebaran pengajar perlu kerja keras oleh semua pihak terutama oleh pemerintah dan dinas pendidikan. Karena, hal tersebut tidak lepas dari faktor kedua tadi yaitu kurangnya berbagai sarana di pedesaan sehingga banyak pengajar yang enggan mengajar di tempat yang serba mengalami keterbatasan atau bahkan kekurangan. Pemerintah pun perlu memetakan daerah-daerah yang dianggap masih membutuhkan pengajar yang berkualitas sehingga tidak terjadi kesenjangan yang amat mencolok. Berkaitan dengan masalah pengajar terutama di bidang studi Geografi, masih banyak pengajar mata pelajaran Geografi di seluruh Indonesia bukan merupakan lulusan studi ilmu Geografi baik itu kependidikan maupun non kependidikan. Di Karesidenan Solo, hanya 9% guru geografi SMA berlatar belakang pendidikan geografi. Bahkan, di sebuah sekolah bertaraf internasional di Provinsi Lampung ada seorang guru geografi yang berlatar belakang Sosiologi dan Antropologi, sebelum guru itu mengajar muridnya.
Masalahnya, kemanakah para lulusan pendidikan geografi? Mencukupikah untuk menyuplai kebutuhan sekolah? Memang, geografi merupakan ilmu yang jarang diminati, sedangkan peluang pekerjaan di bidang ini begitu besar, dan menggiurkan para lulusan pendidikan geografi. Tapi, tidak kah guru perannya sangat penting? Mungkinkah faktor kesejahteraan guru yang masih rendah, tidak sesuainya upah yang mereka terima atas jerih payah yang mereka lakukan mengakibatkan banyak lulusan pendidikan geografi yang lari ke area lain atau kurikulum geografi 2006 belum tepat diterapkan sekarang, mengingat kurangnya pengajar? Mungkin hanya ahli kependidikan saja yang mampu menjawabnya.